Kamis, 08 Juli 2010

1. Al Faatihah

Muqaddimah
Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Al Quran dan termasuk golongan surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Quran. Dinamakan Ummul Quran (induk Al Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.
Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Quran, yaitu :

1. Keimanan:
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rab dalam kalimat Rabbul-'aalamiin tidak hanya berarti Tuhan atau Penguasa, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan Penumbuahn oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.

Yang dimaksud dengan Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. Ibadat yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat no. [6].

2. Hukum-hukum:
Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

3. Kisah-kisah:
Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quran memuat kisah-kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa' (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat Al Quran pada surat-surat yang lain.

Senin, 31 Mei 2010

***********

118. Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

Kamis, 31 Desember 2009

Etika Guru dan Murid

Etika dan tugas murid:

1. mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak, karena sabda nabi "Islam dibangun dengan dasar kebersihan"

2. Mengurangi hubungan(keluarga) dan menjauhi kampung halamannya sehingga hatinya terpaut pada ilmu. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan dua hati dalam dadanya. Karena itu, dikatakan bahwa ilmu tidak memberikan kepadamu sebagiannya sebelum engkau menyerahkan padanya seluruh jiwamu.

3. Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan yang tidak terpuji kepada guru, bahkan ia harus menyerahkan segala urusan kepadanya, seperti orang yang sakit keras menyerahkan urusannya kepada dokter tanpa memutuskan sendiri suatu keperluannya. Rasulullah saw. bersabda "Sikap menjilat bukanlah akhlak seorang mukmin kecuali dalam menuntut ilmu."


Kamis, 22 Oktober 2009

Ilmu-ilmu tercela: Sihir, mantra, ramalan, filsafat dan sejenisnya.

sihir dan mantra menyebabkan berbagai kerusakan. sementara laramalan dilarang. Rasulullah saw. bersabda," Jika disebutkan ramalan, Diamlah". beliau memerintahkan kita untuk diam, karena manusia cenderung melupakan hukum sebab-akibat, yakni perantara-perantara, padahal ia adalah faktor yang tidak dapat diabaikan dalam menentukan suatu akibat.

ILMU TERPUJI DAN TERCELA, FARDHU 'AIN DAN FARDHU KIFAYAH (Bag. 4)

Syafi’I berkata,” aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun, karena kekenyangan dapat memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membanyakkan tidur dan menjadikan seseorang lemah untuk beribadah”. Ia pun mengatakan, “ Aku tidak pernah bersumpah dengan nama Allah swt. Baik dalam perkara yang benar maupun perkara yang bohong.
Ia pernah ditanya mengenai suatu masalah, tetapi ia diam saja. Lalu ditanya, “Mengapa engkau tidak menjawab?”. Ia menjawab.” Hingga aku tahu apakah keutamaan itu ada dalam diamku atau dalam memberi jawaban”.
Syafi’I berkata,”Seorang bijak menulis surat kepada orang bijak lain. Ia mengatakan, ‘engkau telah diberi ilmu. Janganlah engkau mengotori ilmumu dengan kegelapan dosa karena engkau akan tetap dalam kegelapan pada hari cahaya para ahli ilmu bersinar dengan ilmu mereka dihadapan mereka’”.

Adapun mengenai kezuhudannya, hal itu tampak pada perkataanya,”Barang siapa yang mengatakan bahwa ia menggabungkan antara kecintaan pada dunia dan kecintaan pada penciptanya, maka ia telah berdusta”.